Mataram- Seiring perkembangan zaman,
nyongkolan mengalami transformasinya sendiri. Makna yang terkandung dalam
ritual pernikahan Lombok inipun terkadang diabaikan oleh masyarakat Lombok. Ini
terlihat dari pelaksanaan nyongkolan di beberapa daerah yang ada di Lombok.
Namun ada pula yang tetap mempertahankan ritual aslinya seperti apa.
Nyongkolan merupakan
salah satu rangkaian dari tradisi pernikahan yang ada di Lombok. Pengantin
laki-laki dan wanita diiring-iring
keliling desa menuju rumah pengantin wanita diringi oleh para pengiring (sebutan untuk yang mengiringi
pengantin) yang terdiri dari keluarga mempelai, pemuda-pemudi dan para tokoh
masyarakat yang ada di daerah tersebut mengenakan pakaian adat Sasak berupa
Lambung atau kebaya, tidak lupa dengan diiringi Gendang Beleq dan membawa hasil bumi berupa buah-buahan atau
sayur-sayuran. Ritual ini dikakukan setelah akad nikah berlangsung. Ritual ini
dilakukan agar masyarakat desa mengetahui bahwa kedua mempelai telah sah
menjadi suami-istri.
Namun,
pada saat sekarang ini, ritual nyongkolan
kadang hanya menjadi pelengkap pernikahan semata. Di beberapa daerah, nyongkolan tidak lagi diiringi Gendang Beleq, melainkan kecimol dengan lagu Sasak modern, joget,
sampai ada beberapa pengiring yang
mabuk-mabukkan. Rukiana Wildayanti, salah satu masyarakat Lombok Tengah
mengatakan demikian, kadang tidak jarang terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh
pengiring pengantinnya.
“Biasanya
saat nyongkolan dibawa kelapa muda, buah-buahan atau sayur-sayuran, tapi
sekarang sudah tidak ada lagi.” Katanya, ketika diwawancarai via handphone.
Cedin
Atmaja, salah satu dosen Folklor di Universitas Mataram mengatakan nyongkolan merupakan norma, nilai,
adat-istiadat yang sudah ada pada suku Sasak sebagai penyempurna setelah akad
nikah, untuk mengikat kerukunan keluarga dan masyarakat supaya sama-sama
mendukung kedua mempelai, dan mensosialisasikan diri bahwa mereka (read : kedua mempelai sudah resmi
menjadi suami-istri), tidak semata-mata untuk sakral karena itu di luar akidah.
Saat nyongkolan, ada tiga benda yang
harus ada keris, benang, dan kepeng laeq
atau kepeng bireng. Keris
melambangkan bahwa hidup dan mati mempelai wanita adalah tanggungjawab mempelai
laki-laki, benang dilambangkan sebagai pengikat bahwa perkawinan itu selamanya,
tidak ada semacam poligami atau sebagainya, yang terakhir, kepeng laeq atau kepeng
bireng melambangkan kehidupan, ekonomi, yang di mana itu nanti menjadi
simbol penghasilan.
Untuk
sistem iring-iringan pengantin berupa wanita yang berada di depan, dan
laki-laki yang berada di belakang memiliki filosofi bahwa wanita harus dijaga
dari belakang. Jadi, apapun yang terjadi di depan, laki-laki sudah awas akan
hal tersebut.
Cedin
berharap, untuk kedepannya terutama generasi muda untuk banyak mengadakan
kajian, penelitian, dan survei terlebih dahulu budaya-budaya sasak yang
sebenarnya, yang belum terekspos, melestarikan, dan menjaga serta
menyebarluaskan folklor ini dalam bentuk cerita maupun ungkapan, supaya
dipertahankan. Untuk mempertahanka hal tersebut harus ada upaya dari masyarakat
Sasak sendiri untuk menanamkan inkulturasi, yakni memperkuat, mempertahankan
dan melestarikan budaya Sasak sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh budaya luar
atau asing.
Makasih infonyaa sangat bermanfaat
BalasHapusMelet ๐ข
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusParadigma masyarakat sudah bergeser
BalasHapusMantap
BalasHapusRitual yg sakral .terima kasih infonya
BalasHapusIni menarik untuk dikaji lebih dalam. Salah satu poin yang kusoroti: apa pertimbangan masyarakat mengganti gendang beleq dengan kecimol (yang sebenarnya adalah perluasan seni musik koplo)? Apakah memang masyarakat merasa iring-iringan tersebut bisa digantikan sesuai zaman, atau justru ini terkait ekonomi? Perbandingan harga sewa gendang beleq dan kecimol sangat tinggi.
BalasHapusAda pula beberapa fenomena nyingkolan kekinian telah dijabarkan dalam novel Guru Onyeh karya Salman Faris. Mungkin bisa jadi tambahan referensi.
Salam.
Sy pernah wawancara pak Sadar namanya. Beliau salah satu budayawan Sasak. Beliau bilang utk iringan musik saat nyongkolan gak harus pakai gendang beleq, musik lainpun bisa, asal masih dalam kesopanan dan tdk membuat rusuh seperti yang dibeberapa kasus sering terjadi.
Hapusuntuk buku Guru Onyeh itu, sy cuma pernah lihat mbak, padahal pengen pinjam, tp gak bisa๐ญ. Terima kasih atas masukannya mbak Ilda.
Nice!
BalasHapusGood
BalasHapusGood job ! Smoga menjadi pengetahuan yg beemanfaat bagi netuzen khususnya luar lombok ๐
BalasHapusBangga sasak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusTerima kasih ya... nambah pengetahuan sy trntang budaya sasak ... di tunggu postingan selanjutnya ya...
BalasHapusthanks infonya ya
BalasHapussemoga dengan artikel ini menyadarkan kita sebagai orang sasak untuk tetap melestarikan budaya, salah satunya nyongkolan ini.. thanks buat infonya
BalasHapusidoookkkk
BalasHapus