Indonesia
memiliki sekian pulau yang berimbas kepada adanya keberagaman sejarah, budaya,
adat-istiadat, sampai keyakinan memiliki ciri dan kekhasan masing-masing, tidak
terkecuali dengan Lombok. Namun apa jadinya jika kita sendiri tidak mengenal
dengan baik sejarah dan budaya sendiri? Belum lagi jika dua hal itu telah
diubah oleh “orang asing” dan ironinya kita meyakini hal tersebut? Bagaimana
kita bisa mencintai, menjaga, serta menegakkan budaya itu jika kita sendiripun
tidak tahu seperti apa sejarah dan budaya tersebut? terlebih jika tidak peduli.
Foto : Naskah Piagam Gumi Sasak
Berawal
dari kegelisahan para pegiat budaya Sasak dengan kondisi masyarakat yang sudah
banyak bergeser dari budaya yang seharusnya, tradisi dianggap hanya sebagai
perayaan tanpa makna, fakta sejarah yang diacak-acak oleh pihak yang
berkepentingan membuat banyak ketimpangan yang terjadi. Kita (read : Suku
Sasak) seakan tidak mempunyai sejarah dan budaya sendiri. Kita malah bercermin
pada fakta tertulis yang ditulis oleh orang luar, bukan oleh orang Sasak.
Melalui itu pula kita didoktrin bahwa sejarah, budaya, dan tradisi yang selama
ini telah tersebar luas baik dalam bentuk tertulis, lisan, dan perbuatan itulah
yang sesungguhnya, padahal banyak fakta
tersembunyi yang sengaja dikubur untuk menghilangkan jejak dan untuk kepentingan
orang-orang tertentu kemudian berdampak pada kondisi kebudayaan yang tidak
jelas.
Dari
sekian kegelisahan itulah maka Piagam Gumi Sasak ini lahir, merupakan suatu
upaya untuk menyadarkan, membangun, dan, menegakkan kembali citra jati diri
bangsa Sasak. Hal ini tercantum dalam Piagam gumi Sasak pada bagian pertama
sampai kelima. Piagam ini pertama kali
ikrarkan pada 26 Desember 2015 di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) oleh
Dr. Muhammad Padjri, M.A. didampingi oleh Murahim, SP.d., MP.d. yang dihadiri
oleh para tokoh budayawan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh
pemerintahan.
Piagam
ini lahir bukan dalam waktu semalam, namun membutuhkan waktu yang lama, diskusi
yang panjang, juga membutuhkan banyak pihak dan lembaga sehingga piagam ini bisa
disusun dengan baik. Karena untuk membangun kembali peradaban tidak bisa hanya
mengandalkan satu atau dua orang saja, namun membutuhkan banyak pihak dan
lembaga.
“…dan itu tidak bisa
kami lakukan hanya dengan lembaga kami hanya kami sendiri, maka kami bersepakat
menemui tokoh-tohoh budaya, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh penguasa, pengemban
Gumi Paer kemudian difasilitasi oleh Majelis Adat Sasak…” Kata Murahim, SP.d.,
MP.d. saat ditemui di ruangannya pada (27/12).
Hal
yang sama juga dikatakan oleh Dr. Muhammad Padjri, M.A. Itulah mengapa dalam
isi Piagam Gumi Sasak pada bagian pertama sampai terakhir ada kata “bersama”,
karena tugas ke depan (read : memperjuangkan dan mengembalikan) sangatlah berat
dan itu tidak bisa dilakukan sendiri.
Kemudian,
langkah-langkah implementasi untuk mewujudkan pengembalian sejarah dan budaya
Sasak haruslah didahului dengan menggali kembali khazanah pengetahuan, khazanah
kebudayaan agar tidak terjadi disorientasi nilai, disorientasi historiografi,
dan disorientasi makna. Sebelum mengembalikan, membangun, menegakkan, serta
mempertahankan semua itu, hal pertama yang harus ada adalah mengenal dan tahu
sejarah dan kebudayaan Sasak yang sesungguhnya, sehingga kita tahu persis apa
yang kita pertahankan, bukan malah sebaliknya.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMari kita sebagai bangsa sasak menjaga budaya sasak
BalasHapusSasak...
BalasHapusMantap
Setuju dengan artikelnya kak
BalasHapusTulisan ini akan memotivasi pemuda-pemudi sasak agar tetap melestarikan warisan luhur mereka yaitu budaya sasak
BalasHapusMari lestarikan budaya sasak
BalasHapusPiagam gumi sasak keren!
BalasHapusSasak memang luar biasa
BalasHapusterimakasih untuk postingannya.. bermanfaat sekali.. semoga kita tersadar akan budaya yang makin rapuh
BalasHapusMenjaga budaya adalah kwajiban kita
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusJaga terus budaya bumi sasak
BalasHapusharus ada keterlibatan banyak pihak
BalasHapusluar biasa tulisan ini.
BalasHapussangat bermanfaat